Produk
Indonesian English French German Portuguese Spanish

NANGO-SIDA™ 142SC

 

Nango-Sida adalah insektisida kontak lambung dan sistemik berwarna hijau tua dan dapat dilarutkan dalam air dan menyatu dengan molekul air sehingga dapat disemprokan secara baik dan tidak menghambat spuyer alat seprot.

Nango ada adalah nama hama yang di ambil dari bahasa daerah di Sulawesi Selatan yang artinya adalah hama pengganggu dan Sida adalah racun. Nango-Sida merupakan teknologi kombo yang terdiri dari 3 bahan aktif dengan kekuatan memlumpuhkan beberapa jenis hama yang mengganggu tanaman tanpa merusak pertumbuhan dan daun tanaman juga tidak mengakibatkan resistensi tinggi terhadap lingkungan dan tanah.

Nango-Sida berbahan aktif : Emmamektin Benzoat 22g/l, Flipronil 80g/l & Cypermethrin 60g/l. kombo yang berimbang serta kuat dalam melumpuhkan populasi hama Larva Putih Palsu (HPP), Penggerek batang, Walang, Wereng, Ulat grayak, Tungau, Ulat perusak daun dan buah,Trips dan hama penganggu lainnya untuk tanaman Padi, Bawang Merah dan Cabai.

Nango-Sida memiliki konsep mematahkan dan membunuh hama penggangu tanaman dalam waktu singkat tanpa mempengaruhi ekosistem lingkungan dan tanaman.

Dosis Penggunaan:

   TANAMAN   

           DOSIS

                                      INTERVAL

  Padi

         0,8 – 1,2 ml/L

Saat terlihat  populasi serangan  hama : Penggerek Batang, Hama Putih Palsu, Wereng, & Walang Sangit.  Interval : 5-7 hari.

  Bawang

        1,2 – 1,5 ml/L

Ulat Grayak, Tungau, Ulat Tanah, Grandong. Interval : 3-5 hari.

  Cabai

          1 – 1,4 ml/L

Ulat Perusak Daun & Buah (Grayak),  Tungau, Kutu Daun & Trips. Interval : 5-7 hari.

 

 

Herosida™ 150EC

HeroSida™ 150 EC adalah insektisida kontak dan lambung berbentuk pekatan cair berwarna hijau yang dapat diemulsikan ke dalam air berwarna putih untuk pengendalian hama: Thrips, kutu daun, penggerek daun, ulat grayak, Ulat tanah, penggulung daun, perusak daun, penggerek polong, penghisap polong, penggorok daun, sundep dan wereng coklat pada tanaman bawang merah, cabai dan padi.

Bahan aktif :

Emmamektin Benzoat 25 g/l + Chlorfinaphyr 125 g/l

Sasaran                                            Konsentrasi

  1. Ulat Grayak                          1.0 - 2.0 ml/l
  2. Trips (parvispinus)                1.0 - 1.5 ml/l
  3. Kutu daun (Myzus persicae)   1.0 – 2.0 ml/l
  4. Sundep / kaper                    0.5 – 1.5 ml/l
  5. Wereng coklat                     1.5 – 2.5 ml/l
  6. Hama putih palsu                1.0 – 1.5 ml/l
  7. Ulat buah (Helicoverpa sp)    1.0 – 2.0 ml/l
  8. Tungau (PolPolphagotarsonemuslotus) 1.0 – 2.0 ml/l
  9. Kutu kebul (Bemisia tabaci)   0.5 – 1.5 ml/l
  10. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)    1.0 – 2.0 ml/l

 

Kemasan : 100ml dan 200ml

Bekerja dengan cara : Kontak

Gunakan dosis/konsentrasi rendah tetapi jika ada polulasi tinggi serangan hama maka gunakan dosis tinggi dengan 2 (dua) kali aplikasi dan setelanjutnya sesuai dengan dosis anjuran, atau hubungi petugas untuk mendapatkan saran terbaik.

Perhatian: Gunakan pelindung keamanan saat melakukan aplikasi penyemtrotan, Bahan aktif beracun.
Lakukan dengan dosis anjuran dan jauhkan dari jangkauan anak-anak.

 

pH Air

Air merupakan salah satu faktor penting dalam penyemprotan pestisida. Untuk melarutkan pestisida harus digunakan air bersih. Air kotor yang berasal dari sungai atau selokan tidak terjamin mutunya, karena mungkin mengandung logam berat yang akan bereaksi dengan bahan aktif pestisida, yang akan menyebabkan efikasi pestisida tersebut menurun. Selain itu, air kotor mungkin juga sudah tercemar oleh patogen penyakit yang akan membahayakan bagi tanaman yang dibudidayakan.

Pada umumnya pestisida bersifat asam. Pada kondisi basa akan terjadi hidrolisis yang akan menyebabkan waktu paruh pestisida menurun. Waktu paruh pestisida ialah periode sejak terjadinya deposit pestisida sampai hanya setengah (50%) deposit tersebut yang tersisa sebagai residu. Selain itu, pH air berpengaruh pula terhadap umur larutan semprot.

Umur larutan semprot ialah periode sejak pembuatan larutan semprot sampai larutan semprot tersebut diaplikasikan. Jika pH air 3,5-6 umur larutan semprot 12 jam, sedangkan jika pH air 6,1-7 umur larutan semprot hanya 2 jam. Dengan demikian, pH air yang diperlukan untuk membuat larutan semprot adalah pada kisaran 4,5 -5. Oleh karena itu jika pH air lebih besar dari 5, maka harus diturunkan menggunakan Asam Nitrat (HNO3) atau larutan penurun pH lainnya. Di pasaran larutan menurun pH dikenal dengan nama dagang Biosof.

Tiga hal Penting Yang Perlu diketahui dalam Teknik Penyemprotan Pestisida:
Keberhasilan penyemprotan pestisida terkait erat dengan teknik atau cara penyemprotan yang dilakukan. Teknik penyemprotan pestisida mencakup tiga hal penting, yaitu : (1) kecepatan berjalan, (2) arah dan jarak spuyer pada bidang sasaran, dan (3) arah ayunan tangkai spuyer.

1. Kecepatan berjalan

Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam penyemprotan pestisida adalah kecepatan berjalan petugas penyemprotan. Kecepatan berjalan petugas penyemprotan untuk mendapatkan hasil yang baik adalah sekitar 6 km/jam. Jika kecepatan berjalan kurang dari 6 km/jam, maka volume semprot yang digunakan akan boros dan jika kecepatan berjalan lebih dari 6 km/jam, maka hasil penyemprotan tidak rata.

2. Arah dan jarak spuyer pada bidang sasaran

OPT pada umumnya berada di permukaan daun bagian bawah. Oleh karena itu nozzle atau spuyer hendaknya diarahkan menghadap ke atas dengan sudut kemiringan 45o. Jarak spuyer dengan bidang sasaran atau tanaman sejauh ± 30 cm. Jika jarak antara spuyer dengan tanaman kurang dari 30 cm akan dihasilkan ukuran butiran semprot yang besar, akibatnya larutan semprot akan menetes ke tanah. Jika jarak spuyer dan tanaman lebih dari 30 cm butiran semprot tidak

3. Arah ayunan tangkai semprot.

Tiap jenis spuyer akan menghasilkan pola semprotan tertentu. Spuyer jenis hollow cone akan menghasilkan pola semprotan berbentuk lingkaran dengan lubang kosong ditengah, sedangkan spuyer flat akan membentuk pola semprotan berbentuk persegi penuh (lihat gambar). Untuk menghasilkan hasil butiran semprot yang merata pada tanaman, maka arah ayunan tangkai semprot penggunaan kedua spuyer tersebut berbeda.

Spuyer jenis hollow cone banyak digunakan oleh petani di Indonesia, baik yang mempunyai satu lubang, 2 lubang atau lebih. Untuk menghasilkan butiran semprot yang merata pada bidang sasaran/ tanaman, tangkai semprot diayun secara melingkar. Sedangkan jika menggunakan spuyer flat tangkai semprot diayun ke depan dan belakang.

 

pH Tanah

Keasaman atau pH (potential of Hidrogen) adalah nilai (pada skala 0-14) yang menggambarkan jumlah relatif ion H+ di dalam larutan tanah. Larutan tanah disebut bereaksi asam jika nilai pH berada pada kisaran 0-6 artinya larutan tanah mengandung ion H+ lebih besar dari pada ion OH- sebaliknya jumlah ion H+ dalam larutan tanah lebih kecil dari pada ion OH- larutan tanah ini disebut bereaksi basa (alkali) atau memiliki nilai pH 8-14. jika jumlah ion H+ di dalam larutan disebut bereaksi netral dengan nilai pH 7(Novizan, 2002).

Tanah bersifat asam karena berkurangnya kation kalsium, ,magnesium, kalium dan natrium. Unsur-unsur tersebut terbawa oleh aliran air kelapisan tanah yang lebih bawah (pencucian) atau hilang diserap tanaman, karena ion-ion positif yang melekat pada koloid tanah berkurang, Kation membentuk asam seperti hidrogen dan aluminium akan menggantikannya. Terlalu banyak pupuk nitrogen seperti ZA juga menyebabkan peningkatan konsentrasi ion H+ (Novizan, 2002).

Ada tiga alasan utama nilai pH tanah sangat penting untuk diketahui :

  1. Menentukan rendah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman, umumnya unsur hara mudah diserap oleh akar tanaman pada pH tanah netral 6-7 karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara mudah larut di dalam air. Bagian yang melebar pada jalur setiap unsur hara menunjukan ketersediaan unsur hara yang semakin besar dan bagian yang menyempit menunjukan ketersediaan unsur hara yang semakin kecil. Unsur-unsur makro seperti N, P, K, Mg, Ca dan S lebih banyak tersedia di dalam larutan tanah ber pH 6 sampai 7,5. Pada pH lebih rendah atau lebih tinggi ketersediaan unsur-unsur makro tersebut cenderung menurun. Sementara itu jumlah unsur mikro yang tersedia pada pH netral cenderung lebih kecil dibandingkan dengan pH rendah atau tinggi tetapi jumlah tersebut telah mencukupi kebutuhan tanaman.
  2. Derajad keasaman atau pH tanah juga menunjukan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Pada tanah asam banyak ditemukan unsur aluminium yang bersifat racun juga mengikat phosphor sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga mudah ditemukan unsur-unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu, dalam jumlah yang besar. Akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman, pada tanah alkali ditemukan juga unsur yang dapat meracuni tanaman yakni natrium (Na) dan molibdenum (Mo).
  3. Derajad keasaman atau pH tanah sangat mempengaruhi perkembangan mikroorganisme di dalam tanah. Pada pH 5-5,7 bakteri dan jamur pengurai bahan organik dapat berkembang dengan baik (Novizan, 2002).

Tiga sisi negatif dari tanah yang bersifat asam yaitu unsur hara makro tidak tersedia dalam jumlah cukup tetapi sebaliknya unsur hara makro yang bersifat racun bagi tanaman justru tersedia dalam jumlah yang banyak. Selain tanah yang terlalu asam dapat menghambat perkembangan mikroorganisme di dalam tanah

Kondisi pH tanah juga menentukan perkembangan mikroorganisme dalam tanah. Pada pH 5,5 – 7 jamur dan bakteri pengurai bahan organik akan tumbuh dengan baik. Demikian juga mikroorganisme yang menguntungkan bagi akar tanaman juga akan berkembang dengan baik.

Jika pH tanah yang di ukur tadi tidak sesuai harapan kita tentunya kita akan mencoba mengubah pH tanah tersebut sesuai dengan yang kita harapkan. Sebenarnya setiap tanaman memerlukan pH tertentu yang spesifik untuk pertumbuahnnya yang optimal, akan tetapi pH tanah yang ideal untuk semua jenis tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura di Indonesia adalah antara 6 sampai 7.

Jika pH tanah kita sudah menyimpang dari kisaran tersebut maka segeralah mengatasinya. Sebagai contoh jika pH tanah dibawah 6 itu berarti tanah masam dan jika lebih dari 7 berarti basa.

 

BMM News

Prev Next

Penggunaan Trendsida di Dieng

Penggunaan Trendsida di Dieng

Dari Dieng Wonosobo, penggunaan TRENDSIDA dan FERTILEGROW mampu mengatasi masalah utama di musing penghujan saat...

Antusias petani Demak

Antusias petani Demak

Antusias petani Demak, bukti nyata dimasa tanam sebelumnya menjadikan modal keyakinan para petani cabai untuk...

Mangga tetap berbuah

Mangga tetap berbuah

Pohon mangga tetap produktif menghasilkan buah mangga yang berkualitas. Bunga tidak rontok dan bobot mangga...

Sukses petani Banjarnegara

Sukses petani Banjarnegara

Salah satu petani sukses dari Grogol, Banjarnegara. Yang setia menggunakan produk BMM Group dalam mempertahankan...

Antusias petani bawang merah di brebes

Antusias petani bawang merah di brebes

Antusias petani bawang merah di brebes menggunakan produk BMM Group. Bukti nyata dan hasil membuat...

Petani mangga di Bali

Petani mangga di Bali

Respond positif dari bali petani mangga, pada musim hujan saat ini ternyata tanaman mangga tetap...

Pembibitan ketimun panah merah

Pembibitan ketimun panah merah

Pembibitan ketimun panah merah di agom, way panji Lampung menggunakan produk TRENDSIDA (fungisida), POC Nutrigrow...

Petani cabai Kintamani

Petani cabai Kintamani

Bersama petani cabai di Kintamani Bali Sukses

Hasil aplikasi produk BMM

Hasil aplikasi produk BMM

23 September 2016, subang Jabar. Hasil aplikasi produk POC Nutrigrow, Trendsida, Resiksa dan POP. Hasil...

Kegiatan study petani bandung

Kegiatan study petani bandung

Kegiatan study, Bandung sept 2016 petani bawang dari 4 kabupaten payen dan nara sumber adalah...

Panen bawang merah Bojonegoro

Panen bawang merah Bojonegoro

Hasil panen bawang merah di bojonegoro 23 September 2016. Terjual 110.000.000/2.000m2. Petani bawang ini menggunakan full...

Sukses petani sayur di bandung

Sukses petani sayur di bandung

20 September 2016, bandung.Bunga kol ternyata menggunakan produk BMM terbukti mampu menjadikan tanaman sehat dan...

Who's Online

We have 86 guests and no members online

Head Office

Jalan Martadinata 254A, Jebres,
Surakarta, Jawa Tengah.
57121 - Indonesia.
 
Telepon / fax.: +62-271-2932485
Email : fertilegrow@gmail.com
                           cs@bmm-id.com
                         www.bmmid.com

BMM CARE

Tingkatkan Produksi Pertanian dengan Metode Yang Tepat, Hemat Biaya & Berlimpah hasil.

Produk-produk BMM Group Indonesia sangat aman dan cocok digunakan hampir untuk semua tanaman dan tidak membuat tanah menjadi rusak serta tidak mengandung residu dan berdampak resistensi terhadap hama dan penyakit, gunakan sesuai dengan petunjuk dan anjuran penggunaan. jika terjadi keracunan segera lakukan pertolongan pertama pada kecelakaan dan segera hubungi dokter terdekat untuk mendapat perawatan intensif. Gunakan peralatan keselamatan dalam melakukan aplikasi dengan produk-produk BMM Group.

KESELAMATAN KERJA adalah HAL UTAMA bagi kami.

Live Support

+628128566300  (WA CENTER)